Maaf ikut nimbrung, melihat topiknya begitu hangat. Menanggapi bukunya Safir Senduk, sy rasa pendapat dia sangat benar. Untuk menjadi "kaya" (banyak duit) tidak perlu kita keluar dari pekerjaan kita. Tapi kalo ada pendapat yg bilang teori ini "mematahkan" teorinya kiyosaki, bhw hanya pengusaha yang bisa "kaya" sy rasa ini kurang benar. Krn di sini ada salah pengertian.
Kenapa? Perbedaannya ada di konsep "Kaya". Kiyosaki menggambarkan kondisi kaya bukan dari banyaknya uang yg anda punya, tapi seberapa lama anda bisa bertahan kalo anda tidak "bekerja" (hidup dari gaji anda). Sebagai contoh seorang manager dengan gaji 20 jt sebulan, kehilangan pekerjaannya / tiba2 sakit parah, berapa lama dia bisa survive dengan keadaan ini? Jadi kiyosaki ngga membahas ttg banyak duit, ttp ttg KEBEBASAN FINANSIAL.
Oleh karna itu, Kiyosaki menganjurkan kita mangakumulasi ASET. Aset di sini bisa di analogikan dgn pendapatan pasif, atau Pak Safir biasa bilang ASET produktif. Aset produktif bisa berupa REal estate, BIsnis, Saham (surat2 berharga). Intinya aset ini bisa menghsilkan uang buat kita tanpa kita harus menyita semua waktu untuk terlibat didalamnya. Aset spt ini hanya bisa didapat kalo kita berINVESTASI. Untuk itu kita memang harus menyisihkan waktu, TAPI KITA TIDAK PERLU KELUAR KERJA KAN?
Jika kita terus menerus memutar uang yg kita sisihkan di dalam aset spt ini, suatu saat (insya allah) Income dr aset ini akan mengcover seluruh kebutuhan hidup kita, bahkan mungkin LEBIH! Kondisi ini disebut bebas finansial krn sekalipun kita di PHK, Income dr aset kita sdh mengcover hidup kita.
Nah kalo anda sdh mencapai taraf bebas finansial, sekalipun status anda masih karyawan, anda tetap punya pilihan MAU TETAP JADI KARYAWAN DENGAN MENGABDIKAN WAKTU ANDA UNTUK BOS ANDA atau TINGGALKAN DUNIA ITU & GUNAKAN WAKTU ANDA FULL UNTUK TERJUN KE DUNIA INVESTASI. IT'S YOUR CHOICE!
Kesimpulan:
Menjadi pengusaha / karyawan bukan di situ masalahnya, tapi mulailah kita MENGAKUMULASI ASET, entah berupa bisnis sampingan, franchise, properti yg dikotrakkan, lalu putarkan income nya ke aset baru spy aset anda makin besar, begitu seterusnya, sampai suatu saat aset2 anda yg menopang kebutuhan anda, bukan gaji anda. Selanjutnya? ya terserah anda!
WASSALAM
GLEN
EU-19
Tidak semua sosok penarik becak berada dibawah garis kemiskinan dan kumuh.
Haji Wahid (56),penarik becak, yang biasanya mangkal di kawasan Gunung
Pereng Kec. Cihideung, Tasikmalaya, adalah sosok lain dari seorang penarik
becak. Selain santun, Wahid ulet dan rajin menabung. Buah dari semua itu, ia
bersama istrinya Hj. Siti Hujaenah, bisa menunaikan ibadah haji pada tahun
2004."Saya bersyukur, karena dari hasil cucuran keringat ini, bisa naik haji
dan menyekolahkan anak," kata Hawid saat ditemui di Terminal Bus
Tasikmalaya, Jumat (5/5).
Pada tahun 1972 Wahid memulai bekerja sebagai penarik becak di Gunung
Pereng. Ia mendapatkan becaknya dari hasil kredit yang dibayarkannya setiap
hari. "Waktu iu saya mencicil Rp 150,00/hari. Cicilan itu, saya bayar selama
kurang lebih setahun," kata warga Jl. Paseh Kota Tasikmalaya ini.
Lunas membayar becak, ayah tiga anak ini mulai menabung untuk membeli tanah
buat tempat tinggalnya. Berkat kerja keras siang dan malam menarik becak,
serta kedisiplinannya dalam menggunakan uang, ia mampu membeli tanah dan
membangun rumah. "Sebagian dari hasil menarik becak, saya tabungkan untuk
berbagai keperluan," katanya.
Lalu ia kembali mengambil cicilan becak, dengan harapan bisa disewakan
kepada rekan lainnya. Ternyata cara itu cukup menambah penghasilan bagi
Wahid. Dari satu becak, lalu sampai akhirnya tahun ini, ia bisa memiliki 40
becak. "Di antaranya, 25 becak milik saya disewakan dengan tarif Rp
4.000,00/hari.
Sisanya, saya kreditkan kepada orang lain," ujarnya.
Tidak hanya itu, sejak punya dua becak, keluarga ini menabung agar bisa naik
haji. Tak ada target harus berapa besar tabungan terisi setiap bulannya.
Wahid hanya menyisihkan uang dari hasil usahanya, setelah digunakan untuk
makan serta kebutuhan sehari-hari.
Ia juga berhasil menyekolahkan ketiga anaknya dengan baik. Anak pertama,
Wawan lulusan Diploma 2, adiknya Eva jebolan SLTA. Si bungsu Dedi, masih
sekolah di SMA.
Setelah becaknya bertambah, ia akhirnya mendirikan kamar kontrakan di daerah
Gunung Pereng, Kota Tasikmalaya. Saat ini, ada 25 kamar yang disewakan oleh
Wahid. Setiap kamarnya, disewakan Rp 85.000,00/bulan. "Lumayan untuk
menambah penghasilan," katanya.
Setelah merasa tabungan yang dikumpulkannya selama 30 tahun jumlahnya cukup,
pada tahun 2003 ia mendaftarkan diri untuk berangkat haji beserta istrinya.
Pada tahun 2004, Wahid bisa pergi ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam
kelima. Perasannya, benar-benar bahagia karena sesuatu yang sebelumnya tidak
pernah terbayangkan ia bisa pergi ke tanah suci.
Hingga kini sekarang Wahid yang rajin ibadah ini, tetap mengayuh becak.
Sehari ia kadang mendapatkan Rp 10.000,00 hingga Rp 20.000,00. Tapi kadang
dia juga sama sekali kosong. Tapi semua itu, dijalani dengan kesabaran,
keuletan, dan kerja keras.
Wahid bisa membuktikan bahwa penarik becak juga bisa hidup dengan baik.
**
*Sumber: Pikiran Rakyat, 6 Mei 2006*
Berita di PR ini sempat terlewatkan, beruntung rekan saya Fatra (dosen
antik), sempat kasih comment di blog saya. Pagi ini saya bongkar-bongkar
kembali tumpukan koran PR, dan ketemu juga. Ada yang menarik dan menjadi
bahan pelajaran buat saya. Bukan kerja keras, keuletan, kesabaran dari Pak
Wahid yang membuat saya terinspirasi. Semua orang sudah tahu, kerja keras,
tekun, ulet, sabar, adalah pepatah klasik untuk kita bisa berhasil/sukses.
Yang menarik perhatian saya adalah cara Pak Wahid meningkatkan
penghasilannya. Dia tidak bekerja mengayuh becak 24 jam.., dan pasti dia
tahu itu tidak mungkin. Tapi yang dilakukannya adalah menyisihkan dari
penghasilannya untuk mulai berinvestasi. Pertama dengan mengambil kredit
becak lagi, untuk kemudian disewakan kepada orang lain. Selanjutnya bahkan
dia membeli becak, untuk dikreditkan kepada orang lain. Artinya, Pak Wahid
sudah membuka usaha LEASING becak. Tahap selanjutnya dari penghasilannya
tersebut dia membeli tanah untuk membangun rumah/kamar kontrakan.
Coba kita hitung saja, sekarang kamar kontrakannya ada 25 buah, disewakan Rp
85.000,00 per bulan. Berarti kalau sewaan terisi penuh Pak Wahid akan
memperoleh penghasilan 25 x Rp 85.000,00 = Rp 2.125.000,00. Waw.., S1 fresh
graduate aja gajinya ga sampe segini. Dan Pak Wahid sebetulnya tidak harus
bekerja lagi, dia tetap akan menerima penghasilan dari sewaan kamar dan
sewaan becak miliknya. Namun, Pak Wahid tetap juga mengayuh becak. Ga tau
kenapa..? Apakah itu adalah His Calling? (ya kan Pak Harry?)
Saya tidak tahu apakah Pak Wahid membaca buku Robert Kiyosaki? Atau sempat
membaca bukunya Valentino Dinsi, atau bukunya Safir Senduk? Saya kira
tidak..
Pak Wahid mulai menarik becak sejak tahun 1972. Buku-buku tersebut belum
terbit di Indonesia. Tapi Pak Wahid sudah memiliki satu kecerdasan lain yang
tidak banyak dimiliki oleh orang lain, yaitu Kecerdasan Finansial.
Saya sendiri merasa malu.., bisa jadi saya memiliki penghasilan yang lebih
besar dari Pak Wahid. Tapi saya hingga saat ini belum memiliki aset yang
bisa dibilang benar-benar aset. Mungkin diantara anda juga mengalami hal
yang sama, bekerja tiap hari, kok gaji ga cukup-cukup ya..? Kok saya puluhan
tahun terus bekerja, belum juga punya aset..?
Sepertinya kita harus mulai bercermin dari Pak Wahid. Ya kan Pak Safir
Senduk..? Hehehe
Ya, satu kata ini bisa mengubah hidup anda. Bahkan bisa mengubah sejarah peradaban dunia. Semua orang sukses pasti akrab dengan satu kata ini. Hidup dan hari-harinya dipenuhi dengan satu kata ini.
Satu kata ini yang telah membuat Thoma Edison menemukan penerang bagi dunia. Satu kata ini yang membuat Henry Ford menjadi super kaya. Satu kata ini yang membuat Ray Kroc menyebarkan virus Mc Donald's di seluruh dunia.
Satu kata ini membuat otak kita selalu aktif berpikir untuk mencapainya. Satu kata ini membuat kita take action. Satu kata ini adalah awal dari miracle dalam hidup kita. Apa itu? Sebentar, saya lanjutkan dulu...
Satu kata ini juga yang telah mengubah bisnis dan hidup saya menjadi seperti sekarang ini. Satu kata ini juga yang mengubah kehidupan guru saya, Pak Tung DW menjadi pembicara termahal di Indonesia saat ini.
Apa satu kata yang saya maksudkan itu? Penasaran ya?
Insya Allah, besok akan saya kasih tau.
Sesuai janji saya kemarin, hari ini saya mau melanjutkan sharing tulisan kemarin. Kemarin sengaja saya gantung, biar bikin penasaran. He he he...
Satu kata yang paling dahsyat dan powerful itu adalah: Bagaimana (HOW)?
Semua pencapaian dalam sejarah peradaban dunia dimulai dengan kata ini. Nggak mungkin Wright bersaudara bisa menemukan pesawat terbang tanpa dimulai dengan kata ini. Begitu juga dengan Jerry Yang dan David Filo ketika mereka menemukan Yahoo!. Bill Gates juga pasti menggunakan kata ini ketika ingin mewujudkan mimpinya ingin menghadirkan PC di setiap rumah di dunia.
Pak Tung Desem Waringin sendiri menginspirasi saya dalam menggunakan kata ini. Dulu, Pak Tung cerita bagaimana dia berhasil mendapatkan income 10 tahun hanya dalam 1 bulan saja. Sekarang, kabarnya income 10 tahun itu sudah dapat diraih dalam waktu 15 menit saja! Itu semua dimulai dari satu kata ini: Bagaimana?
Saya pun bisa melakukan beberapa terobosan (break through) dalam bisnis dan kehidupan dengan menggunakan kata yang powerful ini. Berikut ini adalah contoh penggunaan kata ini yang sudah berhasil saya raih, alhamdulillah:
- Bagaimana income satu tahun didapat dalam satu bulan saja?
- Bagaimana profit itu benar-benar ada uangnya di rekening kita? (dulu profit itu hanya ada dalam hitungan pembukuan karena penjualan sebagian besar adalah kredit dan banyak yang ngemplang)
- Bagaimana bisnis terus bertumbuh tapi saya tetap santai, tidak sibuk?
- Bagaimana saya berbisnis tanpa buka toko?
- Bagaimana saya bisa sukses berbisnis dari rumah saja?
- Masih banyak lagi hal lain yang telah berhasil saya raih dengan menggunakan satu kata ini.
Saya pun masih terus berpikir untuk menggunakan kata ini untuk pencapaian yang lebih tinggi lagi. Kata ini benar-benar powerful. Dengan menggunakan kata ini otak kita akan berpikir keras bagaimana cara mewujudkan keinginan itu. Langkah kita menjadi terarah kepada tujuan ini. Segala sumber daya yang dibutuhkan untuk itu pun mulai terkumpul satu per satu seiring dengan ikhtiar kita dalam melangkah mewujudkannya. Tanpa disadari, keinginan itu pun sudah mewujud di dalam dekapan kita.
Anda percaya dengan cerita saya? Coba aja...
posted by Badroni
7 huruf itu yang sering dan masih menghantui pikiran saya sekarang.
Karena belum sepenuhnya tau sebenarnya PASSION saya ada dimana dan
semua bisnis saya kerjakan sangat menarik. Tapi memang saya harus
pilih yang saya senengin satu saja untuk lebih fokus.
Beberapa teman nasehatin saya kalo PASSION saya di otomotif, beberapa
yang lain bilang sebaiknya saya di IT. Saya akan jelaskan sedikit
mengenai Passion yang artinya adalah Gairah atau hubungannya dengan
bisnis atau Semangat Berbisnis. Menurut saya setiap orang pasti punya
PASSION dalam berbisnis begitu juga dengan saya, cuma yang menjadi
kendala adalah PASSION kita di bisnis apa sih ?? itu yang harus kita
tanyakan ke diri sendiri.
Untuk temen-temen yang mempunyai 1 jenis bisnis mungkin gak masalah,
dia akan fokus terus ke bisnis nya tersebut dan akan menjadi masalah
bila sudah ada tawaran untuk berbisnis di bidang lain yang
keuntungannya lebih menarik, lebih cepat, dan lebih besar, padahal
dia gak tau cara berbisnisnya seperti apa dan mungkin juga gak punya
PASSION di calon bisnisnya yang baru itu.
Buat temen-temen yang lain yang punya bisnis lebih dari satu, seperti
Pak Purdie, Pak Valentino Dinsi, Pak Budi Rachmat atau yang lainnya.
Mungkin akan menjadi kendala di awalnya. Setelah sistem terbentuk,
bisnis sudah jalan bagus, kendala tsb bisa diatasi. Tapi tetap saja
diantara sekian banyak bisnis yang dimiliki, pasti punya pilihan
favorit bisnis atau kita sebut PASSION nya.
Saya punya teman di BERCA Group yang dimiliki oleh Hartati Murdaya,
Suami dan Anaknya. Menurut temen saya di Berca juga punya ratusan
perusahaan group. Pemiliknya punya PASSION sendiri-sendiri. Untuk Bu
Hartati Murdaya pilih perusahaan infrastruktur, anaknya pilih
perusahaan IT dan suaminya pilih perusahaan lainnya. Gimana
perusahaan lainnya... ya dipegang oleh Profesional. Pemilik cukup
dateng sebulan sekali atau 3 bulan sekali atau 6 bulan sekali untuk
melihat perkembangan perusahaan. Jadi bukan berarti kita gak bisa
punya banyak perusahaan, bisa aja.. caranya ..ya untuk perusahaan
yang kita senengin (PASSION kita) kita pegang sendiri, kalo untuk
perusahaan yang kurang kita senengin tapi menghasilkan duit ya bisa
dipegang oleh profesional.
Sekali lagi ini menyangkut PASSION atau seberapa besar gairah kita
untuk mengatur sendiri perusahaan kita atau menjadi self employee.
Jum'at sore minggu lalu saya denger di Smart FM, idola saya Pak Tung
Desem sedang omongin masalah bisnis dan menjawab salah satu
pertanyaan dari pendengar. Pertanyaannya adalah "Pak Tung saya ini
pebisnis pemula bagaimana saya harus memulai", dan dijawab oleh Pak
Tung "Jadilah GENERALIS dan SPECIALIS"... lebih lanjut menurut beliau
adalah jadilah GENERALIS dengan mencoba semua bisnis dulu yang kira-
kira bagus menurut ukuran kamu, kalo sudah dicoba semua jadilah
SPESIALIS di antara satu yang generalis itu, atau kesimpulan saya
adalah coba aja dulu bisnis apa aja, jadi makelar, jadi broker, jadi
konsultan, jadi pedagang, buka EO, ... setelah melalui waktu dan
pengalaman nanti akan terbuka PASSION kita yang mana dari semua
bisnis yang kita punya.
Menurut Pak Mario Teguh juga bahwa hampir 90 persen pebisnis pemula
yang awalnya adalah pegawai, dia akan berhasil berbisnis bila sesuai
dengan jenis pekerjaannya yang terakhir. Bisa jadi dulu pernah jadi
Office Boy, kemudian dia buka agen OB ke kantor2 dan sukses. Bisa
jadi dulu pernah jadi staff GA kemudian buka training atau konsultan
kemudian sukses. Semua itu kalo PASSION nya sudah mantap disitu,
karena menyangkut bekerja dengan FUN, HAPPY, SEMANGAT, BERGAIRAH
seperti penganten baru terus untuk melakukan bisnis yang kadang butuh
waktu 24 jam dalam sehari, dan mungkin 7 hari seminggu gak pernah
istirahat. Kalo kita gak punya PASSION pasti akan loyo dan males
untuk mengerjakan terus-menerus secara konsisten.
Jadi buat pebisnis pemula bisa dimulai dengan berbisnis dulu dan
nanti mencari PASSION nya dimana, seperti nasehat Pak Tung, atau kalo
sudah tau PASSION nya masing-masing tinggal berbisnis aja dibidang
itu,..seperti nasehatnya Pak Mario,.. gampangkan ... mau buat usaha
lainnya ...ya tinggal dibuat.. kalo usaha yg baru bukan PASSION
kita .. ya kasih aja profesional untuk jalanin... atau biar partner
kita yang jalanin .. yang agak sulit mungkin kalo PASSION kita
banyak,.. semuanya mau,.. wah yang ini namanya POLIGAMI,.. he..he..
saya gak mau sumbang saran kalo yang ini... pastinya ada untung dan
ruginya sih.. untuk berbisnis loo .. bukan ber Rumah Tangga seperti
Pak Puspo yang punya WONG SOLO, kalo seperti Pak Puspo saya belum
pengalaman sih.. he,..he..
Salam Funtastic
Agus Ali
All,
Saya jadi inget mengenai MASSVE dan PASSIVE Income
yang “diperkenalkan” oleh pak TDW kepada saya......
pada seminar “Retired Young, Retired Rich” (Kiyosaki)
pada tahun 2005 (klo ga salah) digedung Citibank
(sebelah gedung BEJ), Senayan.
Kenapa saya begitu ingat tentang seminar tsb.....
karena saya, sebagai penggemar Kiyosaki, tidak pernah
baca mengenai Massive Income dalam buku2 Kiyosaki....
koq TDW ngomongin Massive Income (dalam seminar itu).
Oleh sebab itu setelah seminar tsb saya “kejar”
TDW.... saya meminta konfirmasi mengenai Massive
Income ini.... saya telp, sms dan email beliau. Karena
itu, saya jadi ingat sekali seminar tsb.
Saya juga jadi teringat-kembali bahwa pada seminar
tsb, TDW memperkenalkan kepada audience 2 “orang
hebat” dalam lingkungan beliau yaitu pak Roni dan ibu
Holijah.... yang segera setelah seminar ke-2 “orang
hebat” tsb saya temui secara pribadi.... waktu itu
saya lagi giat2nya menjadi “drakula”..... yang haus
atau harus “menyerap” (bukan menghisap lho...) energi
positif dari semua “orang2 hebat”. Saya temui dan
berjabat-tangan (media penyerapan) dengan ke-2 “orang
hebat” tsb.
Tak terasa.... tanpa direncanakan.... tanpa diatur
sebelumnya.... ternyata saat ini saya
ber-interaksi/berhubungan-erat dengan ke-2 “orang
hebat” tersebut..... yaitu pak Roni Badroni (sang
“Provokator” dan “inspirator” saya) dan ibu Holijah
Siregar (penasehat KEU dan Pajak saya).
Kembali ke Massive dan Passive Income.
Fokus saya adalah ke INCOME....
Jadi mo dari Passive, Active, Massive ataupun Multiple
Source of Income (MSI)..... tidak ada masalah....
bergantung pada oportuniti atau kesempatan yang ada
dihadapan saya.
Sumber2 Income tersebut di atas adalah “pilihan”.
Kita akan punya “pilihan”, jika ada “oportuniti”
(kesempatan).
Kita akan mendapatkan/melihat (suatu) “oportuniti”
(kesempatan), jika selalu berpikir secara positif
(“positif thinking”).
Apapun pilihan kita.... tidak menjadi masalah, buat
saya...
JADI....,
Saya pilih TDA.... bukan TDB atau Amphibi....
Apa pilihan anda...???
eeechh... koq jadi kesini pembahasannya.... (pesan
sponsor nich...)
He...he...he...
Nah...
Dalam permainan Cashflow Game 101 (CFG-101
Kiyosaki)...
Saya mengerti/melihat bahwa “oportuniti” (kesempatan)
itu...
... letaknya “DILUAR KONTROL” kita........
Oportunity (kesempatan)....,
... adalah yang selalu diharapkan orang...
... adalah yang di-tunggu2 orang..........
... adalah yang selalu di-impi2kan orang..
Tapi....,
bagaimana kita mo punya Massive Income, klo kesempatan
untuk itu tidak/belum datang..?
bagaimana kita mo punya Passive Income, klo kesempatan
untuk itu tidak/belum datang..?
Bagaimana dengan saya, Massive atau Passive Income
dulu?
Saya fokus ke Income.... atau tepatnya cashflow....
Saya optimumkan semua harta yang saya miliki... agar
menghasilkan income...
Nah...
Dalam permainan Cashflow Game 101 (CFG-101
Kiyosaki)...
Saya mengerti/melihat bahwa harta kita (baik yang
sebagai Asset maupun Liabiliti)...
... adalah 100% berada di DALAM KONTROL kita....
Saya juga mengerti dan memahami bahwa....
melakukan “terhadap sesuatu yang 100% berada di DALAM
KONTROL kita”....
adalah hal yang paling mudah...
KARENA....
kita tidak bergantung pada “durian runtuh”...
.... tidak bergantung pada suntikan modal (yang ga
datang2)....
.... tidak bergantung pada kesempatan (yang ga
datang2)........
.... tidak bergantung pada iklim
ekonomi.......................
.... tidak bergantung pada tinggi/rendah-nya bunga
bank........
.... tidak bergantung pada musim hujan, musim
kering...........
.... tidak bergantung pada musim salak, durian,
rambutan.......
BUKTI-nya.... komunitas TDA membuka beberapa
toko/kegiatan bisnis saat ini...
Karena....
kita tidak bergantung pada “durian runtuh”...
.... tidak bergantung pada suntikan
modal......................
.... tidak bergantung pada
kesempatan..........................
.... tidak bergantung pada iklim
ekonomi.......................
.... tidak bergantung pada tinggi/rendah-nya bunga
bank........
.... tidak bergantung pada musim hujan, musim
kering...........
.... tidak bergantung pada musim salak, durian,
rambutan.......
JADI...,
Hanya dengan “positive thinking” aja....
Maka oportuniti yang 100% ada di DALAM KONTROL kita...
Sudah bisa kita kerjakan...
Dengan memahami mana harta yang sebagai ASSET dan mana
yang sebagai LIABILITI...
Dengan melakukan “asset management”.... yaitu dengan
“memindahkan” harta yang Liabiti menjadi harta yang
Asset....
HASIL-nya saya punya ACTIVE dan PASSIVE Income... yang
jaaauuuuuh lebih besar daripada ketika saya masih
bekerja (makan gaji)....
PADAHAL nilai harta saya (baik yang sebagai Asset
maupun yang sebagai Liabiliti).... relatif masih sama
besar ketika saya keluar dari kerjaan 3 tahun yll.
Bagaimana dengan MASSIVE Income saya?
Nah....
Saat ini atau tepatnya tgl 24 Juni 2006 yll.... saya
menyaksikan penanda-tanganan kontrak jual-beli
batubara senilai usd.8juta per bulan selama 5
tahun....
“klo sampe kontrak ini berhasil di-realisasi-kan”....
maka saya akan mendapatkan Massive Income setiap
bulannya selama 5 tahun kedepan.
Kenapa saya sebutkan “klo sampe kontrak ini berhasil
di-realisasi-kan”....
Karena....
Apakah kontrak ini benar2 dapat di-realisasi-kan....
hampir semuanya berada DILUAR KONTROL saya.
... bergantung pada hasil
“site-visit”.............................
... bergantung pada hasil “surveyor
report”........................
... bergantung pada apakah Letter of Credit-nya terbit
“on-time”...
... bergantung pada apakah Letter of Credit-nya
“workable”.........
... bergantung pada apakah Performance Bond-nya terbit
“on-time”...
... bergantung pada kesiapan barang untuk
dikapalkan...............
... bergantung pada apakah Vessel-nya
“ready”......................
... bergantung pada apakah loading
rate-nya........................
... bergantung pada... pada.... pada...
pada.......................
KESIMPULAN.
- Fokus saya ke INCOME...
- Selalu perpikiran positif (positive thinking)...
- Karena oportuniti/kesempatan yang DIDALAM KONTROL
kita, sudah ada...
- Selalu memiliki “dream” yang tinggi dan
“open-minded”...
- Karena oportiniti/kesempatan yang DILUAR KONTROL
kita, selalu “lewat” didepan kita...
Semoga bermanfaat.
Salam,
Budi_rachmat@yahoo.com
Saya yakin sebagian besar anda sudah tahu istilah
Passive Income (PI) ini dari bukunya Robert Kiyosaki.
Nah, untuk istilah Massive Income (MI) ini
diperkenalkan oleh Pak Tung DW. Maksudnya adalah
income yang bener-bener gede.
Saya pernah berbeda pendapat dengan Pak Tung soal ini.
Saya berpendapat MI dulu yang harus dikejar. Menurut
Pak Tung malah sebaliknya, MI dulu baru PI.
Waktu itu saya masih buka toko di Tanah Abang. Income
saya masih sekitar 10 jutaan per bulan. Di samping itu
saya juga aktif juga mencari PI diantaranya dengan
membeli saham dan sebuah lahan perkebunan kelapa sawit
di Jambi. Di samping itu saya juga ikutan sebuah
perusahaan money game, GoldQuest. Sial, ketipu banyak
juga saya di sini. Hasil dari semua itu memang nggak
seberapa. Dari sawit dapat 1 jutaan per bulan. Dari
saham lumayan juga. Sayangnya, di GoldQuest uang saya
raip lebih dari 30 jutaan.
Menurut Pak Tung, yang harus saya lakukan adalah
menciptakan mesin uang dulu untuk mendapatkan MI. Dan
ini telah dibuktikannya. Waktu saya tanya asistennya,
sekarang mobil Pak Tung ada berapa dan apa aja?
Jawabnya, ada 4 yaitu Mercy, Alphard, Previa dan
Panther. Wow, ini perubahan yang sangat drastis
dibandingkan waktu masih pakai Panther Miyabi tua
tahun 2003 lalu.
Mau PI dulu atau MI dulu sebenarnya relatif. Mana yang
cocok aja. Saya sendiri tidak menyarankan untuk
memilih salah satu. Kalau saya pribadi, cenderung
memilih fokus di MI dulu, sambil mempersiapkan PI.
Kalau ada uang nganggur, investasikan untuk PI. Tapi,
kalau masih dibutuhkan untuk meningkatkan MI,
optimalkan saja dulu. Begitu...
Salam FUUUNtastic TDA!
Let's create massive income NOW!
Wass,
Roni
Dalam membuat tujuan atau target, selama ini kita kenal istilah SMART yaitu Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Time Table. Jadi, dalam membuat target harus spesifik, terukur, bisa diraih, realistis dan ada target waktunya.
Ternyata, oleh Adam Khoo kunci membuat tujuan itu diubah menjadi:
1. Spesifik dan terukur
2. Bergairah dan menggembirakan
3. Lompatan tujuan untuk mendapatkan hasil yang besar.
Point ketiga inilah yang membuat saya surprise. Kebanyakan orang, termasuk saya membuat tujuan secara inkremental. Misalnya, tahun ini penghasilan per bulan adalah Rp. 10 juta. Target tahun depan adalah Rp. 12 juta. Menurut Adam Khoo, tujuan melompat (quantum leap) adalah bila anda menginginkan penghasilan Rp. 100 juta per bulan. Menurutnya, tujuan yang melompat akan sangat memberdayakan. Membuat tujuan yang melompat jauh lebih menggembirakan dibanding tujuan yang meningkat secara inkremental. Jika tujuan itu tidak menggembirakan, secara emosional kita tidak memiliki penggerak yang kuat untuk mencapainya.
Secara akal sehat dan logika, tujuan melompat ini tidak sulit untuk dijelaskan. Hanya imajinasi dan keyakinanlah yang bisa menjelaskannya. Secara logika, itu adalah hal yang mustahil. Tapi, percaya atau tidak, banyak yang telah membuktikannya. Contohnya Adam Khoo itu. Di usia 26, ketika teman sebayanya rata-rata berpenghasilan $ 24.000 per tahun, dia sudah berhasil menembus penghasilan $ 1.000.000. Dari seorang berperingkat paling bawah di sekolah bisa masuk junior college di negerinya, Singapura.
Tujuan yang melompat menghasilkan strategi yang melompat juga. Jelas beda dong. Strategi untuk mendapatkan penghasilan Rp. 50 juta per tahun jelas berbeda dengan strategi untuk mendapatkan Rp. 1 milyar setahun. Tujuan melompat akan memaksa otak kita untuk berpikir "out of the box". Otak kita dipaksa untuk memikirkan cara-cara baru dan paradigma baru untuk mencapainya, dibandingkan tujuan inkremental yang hanya menaikkan sedikit daya dan upaya kita untuk mencapainya.
Dengan menetapkan tujuan yang melompat akan mendapatkan hasil yang luar biasa. Teringat pernyataan dari Pak Tung DW yang mengatakan yang penting bukan seberapa banyak kekayaan anda, tapi seberapa cepat anda mencapainya. Artinya, anda pasti akan mendapatkan uang 1 milyar. Semua orang pasti akan mendapatkannya. Pertanyaannya adalah, berapa lama? Itu masalahnya. Dengan penghasilan Rp. 2 juta per bulan anda PASTI akan dapat 1 Milyar dalam 500 bulan atau 41,7 tahun. Bisakah angka 1 milyar itu dicapai dalam waktu 1 tahun atau 1 bulan saja? Itu yang menarik dan menantang. Tujuan itu akan membuat otak kita berpikir keras untuk mencapainya. Perlu adanya perubahan strategi, cara dan upaya untuk mencapainya.
Fenomena bisnis ekonomi saat ini tidak lepas dari penerapan tujuan yang melompat dan cara berpikir out of the box ini. Bill Gates (Microsoft), Michael Dell (Dell Computer), Jeff Bezos (Amazon.com), Jerry Yang (Yahoo!) adalah para pemikir out of the box yang telah membuktikannya. Negara seperti Jepang, Korea, Singapura adalah contoh negara yang mampu berpikir out of the box yang bangkit dari ketidak berdayaan secara sumber daya alam dan letak geografis menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat di dunia.
Bagaimana dengan di Indonesia? Pastinya banyak juga. Beberapa di antaranya adalah: Tung DW, Andrie Wongso (motivator no.1 di Indonesia, tidak tamat SD), Aa Gym, Purdie Chandra (Primagama), Puspo Wardoyo (Ayam Bakar Wong Solo), Made (Edam Burger), Sukiatno Nugroho (Es Teler 77), Jhonny Andrean (Bread Talk dan Donat J.Co), Chairul Tanjung (Bank Mega, TransTV), Sandy Uno (Saratoga Capital), Harry Tanoesoedibjo (Bhakti Investama). Daftar ini bisa panjang. Merekalah para pejuang from zero to hero. Hasil yang mereka peroleh, jelas merupakan lompatan kuantum yang membuat decak kagum.
Mungkinkah ini kita ikuti? Jawabnya: sangat mungkin. Sudah banyak yang membuktikannya. Mau bukti apa lagi. So, alasan apa lagi untuk kita untuk tidak dapat mengikuti jejak langkah mereka? Pertanyaan ini sekaligus juga menantang saya pribadi. Ayo, kita sama-sama buktikan. Siap? Go! Go! Go! Saya pasti bisa, anda pasti bisa!
Salam FUUUNtastic!
Ayo, buat lompatan kuantum dalam hidup dan bisnis kita...